Cinta dan Kasih : Prinsip Hidup yang Mengantarkan Alfons Manibuy dari Bintuni ke Senayan

Teluk Bintuni – Bagi masyarakat Teluk Bintuni, nama drg. Alfons Manibuy, DESS bukan sekadar nama. Ia adalah sejarah hidup kabupaten itu sendiri. Ia adalah bupati definitif pertama yang mengubah Bintuni dari hutan belantara menjadi sebuah kota.
Kini, di usia yang matang, pria yang selalu mengedepankan prinsip *”Cinta dan Kasih”* itu kembali mendapat amanah yang lebih besar, sebagai Anggota DPR RI Periode 2024-2029 dari Dapil Papua Barat.
Putra Abepura Lulusan Dokter Gigi
Alfons Manibuy lahir di Abepura, Papua, pada 19 November 1965. Latar belakangnya bukanlah birokrat murni. Ia adalah seorang dokter gigi, lulusan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar.
Jiwa pengabdian sebagai tenaga medis itulah yang kemudian membentuk cara kepemimpinannya. Ia tidak melihat rakyat sebagai angka statistik, melainkan sebagai pasien yang harus dilayani dengan empati.
Karier politiknya memuncak ketika ia dipercaya menjadi Bupati Teluk Bintuni pertama, memimpin selama dua periode, 2005–2015. Saat itu APBD Bintuni hanya Rp 400 sampai 700 miliar. Dengan anggaran minim itulah ia meletakkan fondasi dasar pemerintahan, infrastruktur, dan pemekaran kampung-kampung yang hingga kini dikenang masyarakat Moskona dan Babo. 2ddf
Filosofi Cinta dan Kasih
Jika ditanya apa rahasia kepemimpinannya, Alfons selalu menjawab sederhana: Cinta dan Kasih.
Bagi Alfons, Cinta berarti keberanian untuk membangun tanpa membedakan suku. Di kabupaten yang dihuni Tujuh Suku asli – Suku Sebyar, Wamesa, Kuri, Irarutu, Moskona, Sough dan Sumuri – ia merangkul semua.
Kasih berarti kebijakan yang menyentuh langsung. Bukan pembangunan mercusuar, tapi jalan, jembatan, puskesmas, dan pemekaran kampung yang benar-benar dibutuhkan warga di pesisir dan pedalaman.
Prinsip itu terbukti. Pada Pileg 2024, ia meraih 41.782 suara dan melenggang ke Senayan dari Partai Golkar. Lebih dari 28.000 suara diantaranya datang dari Teluk Bintuni, bukti bahwa masyarakat Bintuni masih memilih dengan hati nurani, bukan politik uang.

Apa Keinginannya untuk Papua Barat ke Depan?
Duduk di Komisi XII DPR RI, kini visi Alfons Manibuy jauh lebih besar dari sekadar Bintuni. Ada tiga keinginan besarnya untuk Papua Barat ke depan:
1. Keadilan DBH Migas:,a vokal mendorong evaluasi Dana Bagi Hasil Migas. Sebagai daerah penghasil LNG Tangguh yang menyumbang devisa negara, ia ingin Papua Barat dan Teluk Bintuni mendapat keadilan fiskal yang proporsional untuk membangun SDM-nya sendiri.
2. Petani Lokal Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri: Baru-baru ini ia mendorong petani sayur Bintuni untuk bisa mensuplai kebutuhan perusahaan raksasa seperti BP Tangguh dan Genting Oil. Ia tidak ingin Papua Barat hanya jadi penonton di atas kekayaan alamnya sendiri.
3. Menyambungkan yang Terputus: Keinginan lamanya yang baru terwujud adalah Jembatan Babo. Ia terharu saat ground breaking Jembatan Babo pada Agustus 2026 lalu. “Akhirnya kita mampu menghadirkan infrastruktur yang sangat dibutuhkan masyarakat Babo,” katanya. Ia ingin semua distrik terisolir di Papua Barat tersambung.
Dari Abepura, dari ruang praktik dokter gigi, ke kursi Bupati, hingga ke Senayan. Perjalanan Alfons Manibuy adalah bukti bahwa kepemimpinan yang dilandasi Cinta dan Kasih akan selalu menemukan jalannya untuk pulang dan dicintai kembali oleh rakyatnya.
Penulis : Fideles Wiran



